Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Pengaruh Pendidikan Terhadap Status Sosial Individu (Pendahuluan)

1.     Latar belakang
Pada era perkembangan zaman yang sedang kita lalui ini, berbagai perubahan telah terjadi dalam masyarakat kita.  Perubahan-perubahan tersebut meliputi perubahan nilai, budaya, wawasan, dan terutama keilmuan.
Berbagai perubahan secara sosial banyak terjadi dalam masyarakat kita. Khususnya dalam tatanan nilai dan norma serta pandangan intelektual. Perubahan juga terjadi dalam ranah pendidikan. Bila kita menerawang jauh ke masa-masa lalu sebelum adanya perkembangan zaman yang pesat seperti sekarang, manusia belum begitu menghargai arti penting dari pendidikan. Pokok pemikiran yang selalu diutamakan adalah pemenuhan kehidupan hidup secara ekonomi melalui perdagangan, pertanian dan perkebunan.
Namun sekarang, pendidikan bukan lagi menjadi bagian yang tersubordinasi. Pendidikan memiliki peran yang penting dalam masyarakat. Menjadi bagian yang vital dalam kehidupan sosial yang berlangsung. Orang memerlukan pendidikan untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan memadai. Karena pendidikan menjadi salah satu tolok ukur penilaian kualitas yang dimiliki individu. Pendidikan memberi pengajaran yang memungkinkan seseorang menjadi lebih tahu dan memandang dunianya dalam suatu kesatuan yang selaras.
Secara umum pendidikan  dapat diartikan sebagai usaha  sadar  dan  terencana  yang  sistematis dalam upaya memanusiakan manusia. Pendidikan dapat diartikan secara sederhana sebagai usaha manusia untuk  membina kepribadiannya  sesuai  dengan  nilai-nilai  di  dalam masyarakat dan kebudayaan.

Senin, 28 November 2011

Perempuan Lebih Suka Jadi Ibu Rumah Tangga

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Catherine Hakim dari London School of Economics terhadap 922 wanita di Inggris dengan memberikan pertanyaan mengenai tujuan hidup serta ekspektasi mereka terhadap pasangan, membuktikan bahwa 64 persen wanita ingin suami yang berpenghasilan cukup besar untuk membiayai seluruh keluarga, 69 persen wanita memilih menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak serta keluarga jika sang suami bisa memenuhi kebutuhan finansialnya.
Mengenai tingkat pendidikan, 62 persen wanita ingin pasangan yang memiliki tingkat pendidikan sederajat dan hanya 19 persen yang ingin melebihi tingkat pendidikan pasangannya.
Penelitian tersebut membuktikan bahwa sesungguhnya tak ada keinginan wanita untuk mengambil peran pasangannya. Wanita tetap memposisikan suami sebagai penanggung jawab keluarga dan wanita fokus dalam membesarkan anak-anaknya.
Pada umumnya wanita tidak ingin bersaing dalam hal pendapatan dengan pasangannya. Jika wanita merasa pasangannya memiliki pendapatan yang cukup maka wanita akan cenderung memilih karir sebagai ibu rumah tangga.


Sumber                : http://id.shvoong.com/lifestyle/family-and-relations/2101594-perempuan-lebih-suka-jadi-ibu/
Diterbitkan pada :  15 Januari, 2011   

Analisis Fenomena Gender

Saya mengangkat sebuah kasus dalam penelitian yang menyebutkan bahwa wanita justru cenderung untuk memilih ranah domestik sebagai “bagian” yang diidam-idamkannya. Fakta tersebut cukup menarik mengingat telah begitu banyak perjuangan untuk menyetarakan kedudukan perempuan dan laki-laki namun pihak yang diperjuangkan yaitu pihak perempuan justru merasa nyaman, aman dan bahagia di ranah domestik mereka. Kecenderungan tersebut diindikasikan muncul karena telah berakarnya konstruksi sosial dan budaya dalam masyarakat mengenai sifat yang melekat pada laki-laki maupun perempuan.
Perempuan secara otomatis lebih suka menjadi ratu rumah tangga karena itu dianggap sebagai peran yang sangat mulia. Apalagi ada ideologi yang beranggapan bahwa wanita memang sepantasnya tinggal dirumah (domestik) karena memang kurang berhasil untuk bekerja di luar rumah (publik).